SURAKARTA — Upaya sistematis dalam menjaga standar mutu dan pewarisan keahlian seni tradisi terus digalakkan. Mengacu pada Surat Keputusan Direktur LSP Perkerisan Indonesia Nomor: 01/LPI-SK/2026, enam dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang bertugas sebagai asesor berlisensi, sukses merampungkan rangkaian panjang lokakarya teknis dan uji coba perangkat uji kompetensi. Kegiatan yang mempertemukan unsur pendidikan tinggi seni, lembaga sertifikasi, dan praktisi industri kreatif ini menjadi manifestasi nyata bahwa ekosistem perkerisan kini didorong untuk melampaui batas-batas pewarisan kultural informal, menuju akuntabilitas profesional yang diakui secara legal dan akademis.

Titik Tolak Konsolidasi Asesor di Yogyakarta

Fase inisiasi dari agenda strategis ini mengambil titik tolak di jantung kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada Minggu (29/3/2026), mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB, para pakar dan asesor menggelar rapat konsolidasi serta workshop MKVA (Memberikan Kontribusi Validasi Asesmen) dan Merencanakan Aktivitas dan Proses Asesmen (MAPA) yang dipusatkan di Taman Budaya Embung Giwangan, Umbulharjo.

Enam delegasi dosen sekaligus asesor berlisensi dari ISI Surakarta yang menerima mandat penugasan krusial ini adalah: 1. Kuntadi Wasi Darmojo, 2. Bening Tri Suwasono, 3. Mohammad Ubaidul Izza, 4. Cahya Surya Harsakya, 5. Devi Nirmala Muthia Sayekti, 6. Aji Wiyoko. Pada tahapan ini, fokus utama dialokasikan untuk menyelaraskan paradigma penilaian dan menajamkan pemahaman teknis terkait metodologi asesmen, guna menjamin objektivitas dan validitas dalam mengukur keahlian bidang perkerisan sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia.

Sinergi Akademik, Profesional, dan Praktisi di TUK Mandiri Prodi Keris ISI Surakarta

Pasca-konsolidasi di Yogyakarta, sentrum kegiatan bergeser ke Surakarta. Selama dua hari penuh, yakni pada Kamis dan Jumat (9-10 April 2026), agenda kalibrasi instrumen dan simulasi riil dilaksanakan secara intensif di Tempat Uji Kompetensi (TUK) Mandiri Program Studi Senjata Tradisional Keris ISI Surakarta. Rangkaian kegiatan di kampus seni ini dibuka secara resmi oleh Mohammad Ubaidul Izza, S.Sn., M.Sn., selaku Kaprodi Keris ISI Surakarta. Dalam sambutannya, ia menggarisbawahi urgensi konversi keahlian tradisional menjadi sebuah kompetensi professional berlisensi Nasional. “Kita harus bahu-membahu memastikan bahwa pewarisan keahlian tentang kompetensi perkerisan di Indonesia dikawal bersama. Kolaborasi antara pendidikan tinggi seni dan LSP Perkerisan Indonesia menyediakan fasilitasi bagi pengakuan keahlian tradisional sebagai kompetensi profesional bersertifikat BNSP. Hal ini mewujudkan standardisasi profesi yang terlisensi dan siap bersaing dalam ekosistem industri kreatif dan pelestarian budaya Nasional,” tegas Mhammad Ubaidul Izza yang dalam kesempatan ini juga mengemban amanah sebagai Kepala TUK Mandiri LSP Perkerisan Indonesia.

Visi tersebut mendapat afirmasi kuat dari Direktur LSP Perkerisan Indonesia, Agung Guntoro Wisnu, yang hadir meninjau langsung kesiapan infrastruktur dan kapabilitas SDM di ISI Surakarta. Ia menyambut baik kolaborasi proaktif dari pihak kampus ISI Surakarta. “Keberadaan TUK Mandiri di institusi pendidikan tinggi seni seperti ISI Surakarta sangatlah strategis. Kami di LSP menaruh harapan besar pada peningkatan kapasitas para asesor ini. Asesor yang kompeten, objektif, dan memegang teguh kode etik adalah ujung tombak dalam melahirkan SDM perkerisan yang tidak hanya piawai secara artistik, tetapi juga valid dan tersertifikasi secara resmi oleh Negara,” ungkap Agung Guntoro Wisnu.

Integrasi konseptual Link and Match antara dunia akademik dan kebutuhan industri juga terepresentasikan melalui kehadiran jejaring alumni dan praktisi. Intan Anggun Pangestu, M.Sn., alumni program studi Keris yang kini mengemban amanah strategis sebagai Manajer Manajemen Mutu LSP Perkerisan Indonesia, turut hadir mengawal jalannya asesmen bersama Dona Bayu Pamungkas selaku Manajer Sertifikasi. Keterlibatan Hery Suryo Wibowo, seorang asesor dan praktisi perkerisan terkemuka di Kota Surakarta, turut menyumbangkan perspektif industri budaya yang esensial dalam memvalidasi instrumen uji agar tetap membumi pada realitas lapangan.

Validasi Keilmuan dan Penyusunan Instrumen Asesmen

Demi menjamin kualitas perangkat uji, acara ini menghadirkan Dr. Rony Wardhana, SE., M.Ak., CPA., CKC., AseanCPA., seorang figur Master Asesor BNSP yang juga bertindak selaku Anggota Dewan Pengarah dan Ketua Skema LSP Perkerisan Indonesia. Melalui kepakarannya, diskusi dibedah menjadi lima pilar akademis: penguatan Kode Etik Asesor, mitigasi pelanggaran etik, penyusunan Materi Uji Kompetensi (MUK) untuk pengajuan lisensi skema baru, pendalaman teknis MKVA-MAPA, serta uji simulasi perangkat asesmen.

Terkait signifikansi perumusan MUK, pandangan berbobot disampaikan oleh Dr. Kuntadi Wasi Darmojo, M.Sn Dosen Senior Program Studi Keris ISI Surakarta. Ia menekankan bahwa kuantifikasi keahlian seni tidak boleh mereduksi makna kulturalnya. “Sebagai pendidik sekaligus asesor, tanggung jawab kita tidak sekadar mewariskan pengetahuan, melainkan juga memastikan kompetensi tersebut dapat diukur secara presisi. Penyusunan MUK yang komprehensif sangat penting agar standar penilaian tetap menjaga nilai filosofis dan pakem tradisi, sembari memenuhi tuntutan kualifikasi profesional nasional,” terang Dr. Kuntadi.

Uji  Perangkat Kompetensi: Menguji Generasi Pelestari Muda

Puncak dari kristalisasi keilmuan ini adalah pelaksanaan uji perangkat kompetensi melalui mekanisme simulasi yang melibatkan sembilan mahasiswa semester 4 dari Program Studi Keris. Bertindak sebagai asesi, para mahasiswa ini menjadi parameter hidup untuk mengukur tingkat keandalan, visibilitas, dan kelayakan instrumen pada tiga skema kualifikasi berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), yakni:

  1. Pembuat Bakal Warangka (Level 3 KKNI)
  2. Pembuat Ukir Hulu dan Warangka (Level 4 KKNI)
  3. Juru Tatah Pendok (Level 4 KKNI)

Kesembilan agen pelestari muda yang menjadi pionir dalam simulasi kualifikasi tersebut adalah Galang Eko Prasetyo, Maulana Fiqry Ahsinudin, Aisdiansyah Ardy Ibrahim, Ullia Intan Syari, Musashi Dipanusantara, Rizki Dwi Saputra, Aldi Ardiansyah Putra, Jovan David Ardian Mahendra, dan Fauzan Alifi.

Melalui estafet kegiatan yang sistematis dari Yogyakarta hingga perguruan tinggi di Surakarta ini, ISI Surakarta dan LSP Perkerisan Indonesia telah menetapkan standar profesionalitasi kompetensi suatu profesi. Keberhasilan simulasi ini tidak sekadar mengesahkan keandalan sebuah instrumen uji, melainkan menjadi cetak biru nyata bahwa lembaga pendidikan tinggi seni mampu melahirkan tenaga kerja terlisensi yang berakar kuat pada nilai tradisi, namun senantiasa tangguh menjawab tuntutan profesionalisme di kancah Pelestarian Budaya Nasional yang telah diakui Global.