
SOLO, 13 Oktober 2025 – Di tengah tantangan zaman, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menjawab panggilan kebudayaan dengan mendedikasikan panggung utamanya bagi para “bibit empu muda” dalam perhelatan akbar Keris Fest Internasional 2025. Festival bergengsi edisi ke-6 ini akan digelar pada 26-28 Oktober 2025 di Pendapa ISI Surakarta, bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda, sebagai penegasan komitmen pada regenerasi pelestarian keris Nusantara secara aktif.
Spirit Sumpah Pemuda dan Ketajaman Batin
Ketua Pameran, Cahya Surya Harsakya, S.Sn., M.Sn, menegaskan bahwa pemilihan momentum pameran sarat akan makna. “Jika dulu para pemuda berjuang untuk kemerdekaan politik, maka medan juang generasi sekarang adalah kebudayaan. Melalui festival ini, kami ingin semangat Sumpah Pemuda menggelora di dada para calon empu muda kita,” ujarnya. Semangat ini diperkuat oleh tema utama festival, “Dhuwung Gumelung: Ketajaman Batin yang Menggema”. Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, S. Sos., M. Sn., menjelaskan tema ini sebagai respons intelektual dan spiritual. “Di tengah disrupsi global, kita tidak boleh kehilangan jati diri. ‘Dhuwung Gumelung‘ adalah cara kita bersama mengasah kembali ketajaman batin melalui kearifan yang diwariskan dalam sebilah keris,” ungkap Dr. Bondet.
Wajah Regenerasi: Kisah Para Calon Empu Muda
Manifestasi nyata dari semangat regenerasi ini terlihat pada sosok-sosok mahasiswa Prodi Keris yang terlibat langsung. Mereka adalah bukti bahwa pusaka bangsa telah menemukan pewarisnya. Salah satunya adalah Ardi Sahputro, mahasiswa semester 5 asal Boyolali, menjadi contoh dedikasi luar biasa. Berbekal latar belakang seni karawitan, ia menyelami dunia Tosan Aji dari nol. Ketekunannya membuahkan hasil, membawanya dipercaya sebagai Co-Kurator untuk mendampingi tim kurator utama dalam pameran bergengsi ini.
Selanjutnya Semangat belajar tidak mengenal usia, dibuktikan oleh Fauzan Alifi dari Blitar. Meski tak lagi muda, semangat tulusnya untuk belajar keris di semester 3 menjadikannya inspirasi bahwa kecintaan pada budaya tidak memiliki batas waktu.
Contoh beerikutnya mendobrak dominasi maskulin dalam dunia perkerisan adalah tekad Aulia, mahasiswi semester 3 asal Jepara. Ia membuktikan bahwa passion dan keahlian tidak mengenal gender, sejalan dengan apresiasi Menteri Kebudayaan terhadap lahirnya calon empu keris perempuan dari ISI Surakarta.
Dukungan Nasional dan Panggung Regenarasi Pegiat Kebudayaan
Langkah ISI Surakarta ini mendapat apresiasi penuh dari pemerintah pusat. Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., menyebut Keris Fest sebagai platform strategis. “Saya menyambut dengan antusias. Acara ini krusial untuk melestarikan dan mengembangkan ekosistem perkerisan kita sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia yang diakui UNESCO,” kata Menteri Fadli Zon dalam keterangan resminya. Beliau juga secara khusus memuji peran ISI Surakarta sebagai salah satu institusi yang secara aktif membuktikan kiprahnnya dalam melahirkan ahli-ahli krisologi, termasuk dari kalangan perempuan.
Di balik visi besar tersebut, tim kurator Dr. Kuntadi Wasi Darmojo dan Ardi Saputro memastikan pameran ini akan menjadi sebuah dialog visual yang dinamis. “Pameran ini bukan sekadar kumpulan pusaka dan kreativitas cipta karya keris. Pengunjung akan diajak ‘membaca’ karakter dan ketajaman batin sang empu dengan menyandingkan mahakarya legendaris dengan karya-karya cipta keris yang baru (keris kamardhikan)” jelas Dr. Kuntadi. Pameran ini pun bersifat inklusif. Panitia secara resmi mengundang para empu Keris dan Tosan Aji di seluruh Nusantara untuk menjadi bagian dari narasi ini. “Kami membuka panggilan terbuka untuk 100 karya pilihan yang akan melalui proses kurasi ketat. Ini adalah panggung bersama untuk para maestro tosan aji dan generasi penerus di masa kini,” tambah Ardi Saputro.
Puncak dari semangat regenerasi diwujudkan melalui kompetisi cipta karya keris khusus generasi muda bertajuk “Wiji Adnyana” (Benih Pengetahuan), yang menjadi simbol estafet Kawruh Tosan Aji Nusantara kepada para tunas bangsa.
Rangkaian Acara Selama Tiga Hari
Festival akan dibuka secara resmi pada Minggu, 26 Oktober 2025. Acara pembukaan akan menampilkan sambutan dari jajaran pimpinan, termasuk Dekan FSRD Dr. Ana Rosmiati, dan pidato dari Rektor ISI Surakarta serta Menteri Kebudayaan. Puncak seremoni akan ditandai dengan prosesi simbolis “Tempa Kehormatan” oleh Rektor sebagai tanda dibukanya pameran. Hari kedua, Senin, 27 Oktober 2025, didedikasikan untuk pendalaman ilmu dan literasi Tosan Aji. Pengunjung dapat mengikuti Workshop Tempa dan Sungging Warangka di pagi hari, dilanjutkan dengan sesi “Artist Talk” dan bedah buku “Keris Kamardikan” dan “Anatomi Keris” pada siang harinya. Di saat yang sama, dewan juri yang terdiri dari para pakar akan melakukan penjurian untuk kompetisi karya Cipta Keris. Puncak festival akan berlangsung pada Selasa, 28 Oktober 2025, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Agenda utama adalah pengumuman pemenang kompetisi “Wiji Adnyana”, sebelum festival ditutup secara resmi oleh Dr. Aries Budi Marwoto, M.Sn selaku Ketua Jurusan Kriya ISI Surakarta.
Panggilan Terbuka Peserta Pameran
Keris Fest 2025 terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. ISI Surakarta mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk hadir dan berpartisipasi menjadi saksi denyut baru pelestarian pusaka bangsa oleh generasi muda. Festival ini diharapkan menjadi titik tolak lahirnya para empu muda yang siap menggemakan nama Indonesia di panggung dunia.
Tentang ISI Surakarta:
Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta adalah perguruan tinggi seni negeri terkemuka di Indonesia yang berfokus pada pendidikan, penelitian, dan penciptaan seni tradisi serta kontemporer. Dengan berbagai program studi unggulan, termasuk Program Studi Keris dan Senjata Tradisional, ISI Surakarta berkomitmen menjadi pusat pelestarian dan pengembangan kebudayaan Nusantara yang bereputasi internasional.
Informasi lebih lebih lanjut dapat menghubungi Narahubung :
Ardi Saputro (0898-2674-070) dan
Galang Eko (0896-7588-3010).
